Kue Tradisional vs Kue Modern

Sejak kapan kita mengenal kue basah dalam kategori pangan di Indonesia? Konon budaya Indonesia yang dikenal kekeluargaan melatarbelakanginya. Dahulu saat sebuah keluarga berkumpultersaji panganan kecil-kecil sebagai teman bercengkrama. Berawal dari hasil bumi Indonesia yang melimpah, dijadikan masyarakat sebagai bahan makanan. Salah satunya dibuat kue, seperti ketan, umbi-umbian, gula aren, dan sebagainya.

Sudah saatnya jajanan pasar atau kue tradisional diangkat menjadi ikon budaya bangsa. Gempuran budaya asing yang masuk dalam dunia kuliner ternyata berpengaruh besar terhadap keberadaan panganan khas tersebut. Seperti kue modern yang dikenal dengan istilah Western, Oriental, dan European Cake secara tidak sadar menggerus selera masyarakat Indonesia terhadap kue-kue tradisional. Meskipun demikian, semuanya tentu memiliki identitas dan pangsa pasar yang berbeda bahkan memperoleh tempat khusus di hati para penikmatnya.

Bakery Indonesia mengulas beragam tanggapan dari dua pakar kuliner Indonesia, Ucu Sawitri dan Sisca Suwitomo mengenai keberadaan kue tradisional di era modern.Menurut Ucu Sawitri, salah satu ahli bakery di Indonesia, kue tradisional memiliki kekayaan cita rasa, seperti manis, legit, gurih, asin, pedas, dan sebagainya. Hal itu karena Indonesia kaya akan bahan baku dari alam. Berbeda dengan wilayah luar Indonesia, cita rasa kuenya dominan manis dan gurih. Selain itu, bila diperhatikan secara kasat mata, kekayaan kue tradisional Indonesia bukan hanya dari rasa tapi juga filling.Tekstur kue tradisional tentu lebih beragam dibandingkan kue modern. Mulai dari kenyal, lembek, sampai renyah. Sementara kue modern teksturnya condong seperti roti, bolu, dan tart.

Kue tradisional dapat melahirkan keanekaragaman tekstur karena bahan-bahannya, seperti tepung ketan, tepung beras, sagu, tepung tapioka, ketela, dan umbi-umbian. Kue modern sendiri lebih banyak menggunakan tepung terigu. Hal itu menciptakan karakteristik dengan perbedaan yang sangat signifikan. Kategori warna pun menjadi simbol masing-masing. Esensinya, kue tradisional menggunakan pewarna alami seperti daun suji yang menghasilkan warna hijau; umbi-umbian untuk warna oranye, kuning, dan ungu; gula aren yang memberikan warna cokelat; dan tepung ketan atau beras dengan warna putih.Ucu menambahkan, ada suatu pandangan dalam menangani kue tradisional.

Kue Indonesia kental akan adat istiadat. Dapat dikatakan bahwa kue khas ini memiliki filosofi tersendiri mulai dari penyajian, bahan pembuatan, hingga kekhasan momen yang mengharuskan keberadaan kue tersebut. Ibaratnya, setiap kue memiliki “cerita” dan arti lebih dari sebatas rasa di lidah. Kue tradisional seperti ikut berperan membentuk kekeluargaan yang lebih dekat. Kumpul keluarga ditemani se-teko teh dan sepiring kue di Indonesia menjadi  budaya yang tidak bisa dilepas dan sudah bagian tradisi. Sisca Suwitomo, pakar kuliner, menambahkan hal yang paling signifikan perbedaannya ialah cara pembuatan.

Kue tradisional Indonesia umumnya menggunakan teknologi sederhana. Prosesnya terdiri atas pencampuran bahan, pembuatan adonan dan pemanasan baik dikukus, direbus maupun digoreng. Akan tetapi, terlihat jelas pembuatan kue tradisional lebih rumit ketimbang kue modern. Kue tradisional memiliki peralatan (cetakan) yang bervariasi. Seperti, Bika Ambon, Lemang, Lapis Pepe, Kue Delapan Jam, Kue Pancong, Kue Serabi, Kue Rangi, Kue Pepe, Kue Cubit, dan sebagainnya.

Sementara kue modern pembuatannya fokus pada proses pembakaran, entah itu dibakar atau dipanggang. Proses pembuatannya pun sudah menggunakan teknologi modern dengan menggunakan tenaga mesin. Kue modern juga memiliki varian bentuk tetapi lebih pada permainan tangan dalam dekorasinya. Di sini tampak bahwa Indonesia memiliki kekayaan hakiki dalam dunia kuliner, dan masyarakat yang mampu mengolah kekayaan alam menjadi sebuah panganan yang nikmat.

Selain itu, pembuatan kue tradisional butuh penanganan yang ekstra hati-hati, mulai dari seberapa kental santan, karakteristik tepung, bahkan cara mengukus dan menggorengnya.

Keunikan kue Indonesia lainnya yaitu rasa yang lebih nikmat dan legit bila diproses menggunakan bahan bakar alami, seperti kayu bakar. Selain itu dibungkus menggunakan dedaunan dan penggunaan pewarna alami. Itulah yang membuat kue ini dikenal karena teknik tradisionalnya.

Sumber : Bakery Indonesia, Teks:  Eka Michelina

 

Contact SOES MERDEKA BALI BAKERY
Telepon : 0361-792-0808 HP 0851-OO92-08O8
BBM :  5B0F1A17
Whatsapp O8II 2I7 2OI
Email : SoesMerdekaBali@gmail.com

This entry was posted in Tentang Roti and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s